Kedaton Kutai Kartanegara adalah istana milik
Sultan Kutai Kartanegara yang terletak di pusat kota
Tenggarong,
Kalimantan Timur,
Indonesia. Istana ini selesai dibangun oleh Pemerintah
Kabupaten Kutai Kartanegara pada tahun
2002 setelah dihidupkannya kembali
Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
Meski telah resmi menjadi milik Sultan Kutai Kartanegara, istana baru ini lebih difungsikan sebagai kantor lembaga
kesultanan serta sebagai tempat pelaksanaan acara seremonial oleh Sultan atau Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
Arsitektur Kedaton Kutai Kartanegara merupakan perpaduan gaya modern dan gaya
istana Kerajaan Kutai Kartanegara.
[1] Ruangan istana nampak megah dan mewah dengan tatanan Singgasana Sultan di kelilingi oleh
kursi yang terbuat dari
emas.
[1] Di sebelah kiri
Singgasana terdapat
Gamelan Jawa.
[1] Di dalam Kedaton juga terdapat banyak
ukiran yang berciri khas adat
Kutai,
Dayak dan
Jawa untuk menunkukkan bahwa
Kerajaan Kutai Kartanegara memiliki hubungan sejarah yang erat dengan
suku Dayak dan kesultanan di
Jawa.
[1]
MUSEUM MULAWARMAN TENGGARONG WISATA EDUKASI BUDAYA BERSEJARAH KESULTANAN KUTAI KERTANEGARA
Museum Mulawarman salah satu obyek wisata sejarah yang ada di Kota Tenggarong Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Museum Mulawarman merupakan Istana Kutai Kartanegara yang di bangun pada tahun 1963.
Museum Mulawarman telah mengalami pembangunan renovasi besar, setelah terjadinya kebaran yang menimpa
Museum Mulawarman,
dan bangunan ini sebagai penggantinya. Dan diresmikan pada tanggal 25
November 1971 oleh Gubernur Abdul Wahab Sjahranie, setelah itu
diserahterimakan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada
tanggal 18 Febuari 1976.
Dalam catatan penulis pada saat memandu perjalanan wisata edukasi budaya bernilai sejarah dan
wisata astronomi di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Museum Mulawarman merupakan
obyek wisata yang sangat edukatif. Di sini kita akan banyak menemukan
suatu nilai budaya yang bernafaskan Islam. Di dalam lingkungan
Kesultanan terdapat pemakaman keluarga
Kerajaan Kutai Kartanegara dan Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin, hal ini merupakan bukti saksi sejarah masuk dan berkembangnya Islam di tempat ini.
Di area
Museum Mulawarman kini telah dibangun Alas Kedaton
sebagai tempat kediaman Sultan Aji Muhammad Salehuddin II yang telah
dinobatkan kemabli pada tahun 2002. Di dalam
Museum Mulawarman
tersimpan benda-benda sejarah yang pernah digunakan oleh Kesultanan
seperti singgahsana, pakaian kebesaran, tempat peraduan, tombak, keris,
meriam, kalung dann prasasti Yupa, tidak ketinggalan koleksi keramik
dari China.
Menurut sumber informasi yang penulis dapatkan dari salah seorang pengelola
Museum Mulawarman. Di tempat ini setiap bulan November dilaksanakan
Upacara Erau, yaitu tarian khas upacara adat dan mengulur naga di desa
Kutai Lama. Pada setiap
upacara Erau
juga ditampilkan atraksi seni budaya baik berupa tarian tradisional dan
upacara adat dari berbagai suku yang ada di Indonesia serta manca
negara.
 |
| Museum Mulawarman |
Museum Mulawarman yang sebelumnya adalah bangunan
Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara ini
didirikan pada tahun 1932 oleh Pemerinta Belanda yang menyerahkan
Keraton kepada Sultan Adji Muhammad Parikesit pada tahun 1935. Bahan
bangunannya didominasi terbuat dari beton, mulai ruang bawah tanah,
lantai, dinding, penyekat hingga atap. Di halaman depan
Museum Mulawarman ini terdapat
Patung Lembuswana yang merupakan lambang
Kerajaan Kutai Kartanegara. Gaya Arsitektur bangunannya mengadopsi dari gaya arsitektur suku dayak yang ada di Kutai.
Museum Mulawarman terdiri dari dua lantai. Dari pengamatan
penulis dilantai bawah banyak terdapat koleksi keramik dari negeri
China, sedangkan dilantai satu berisi koleksi peninggalan bercorak
kesenian. Di dalam
Museum Mulawarman ini masih terdapat
benda-benda yang digunakan pada waktu penobatan raja, koleksi
benda-benda bernilai bersejarah yang masih tersimpan rapih dan terawat,
benda-benda ini pernah dipergunakan oleh
Kesultanan Kutai Kartanegara, seperti :
- Singgasana, sebagai tempat duduk Raja dan Permaisuri yang
terbuat dari kayu, dudukan dan sandarannya diberi lapisan kapuk yang
berbungkus dengan kain berwarna kuning, sehingga tempat duduk dan
sandaran kursi tersebut terasa lembut. Kuryang dibuat dengan gaya Eropa,
dan pembuatnya salah seorang Belanda bernama Ir. Vander Lube pada tahun 1935.
- Patung Lembuswana yang merupakan lambang dari Kesultanan Kutai, di buat di Birma
pada tahun 1850 dan tiba di Istana Kutai pada tahun 1900. Lembu Swana
diyakini sebagai tunggangan Batara Guru, nama lainnya adalah Paksi Liman
Janggo Yoksi, yang berarti lembu yang bermuka gajah, bersayap burung,
bertanduk seperti sapi, bertaji dan berkuku seperti ayam jantan,
berkepala raksasa dilengkapi pula dengan berbagai jenis ragam hias yang
dijadikan patung ini terlihat indah.
- Kalung Uncal, benda yang merupakan atribut dan benda kelengkapan kebesaran Kesultanan Kutai Kartanegara yang
dipergunakan pada waktu penobatan Sultan Kutai menjadi Raja pada waktu
Sultan merayakan hari kelahirannya, dan penobatan Sultan serta acara
sakral lainnya.
- Meriam sapu jagad peninggalan VOC Belanda.
- Seperangkat alat kesenian tradisional gamelan dari Kraton Yogyakarta 1855.
- Arca Hindu.
- Ulap Doyo, hasil kerajinan Suku Dayak Benuaq.
- Duplikat Prasasti Yupa, disini hanya disimpan dan dipajang
duplikatnya saja, sedangkan untuk yang aslinya disimpan di Musium
Nasional di Jakarta.
Prasasti Yupa adalah prasasti yang ditemukan dibukit Brubus,
Kecamatan Muara Kaman, ke-7 (tujuh) prasati ini menandakan dimulainya
jaman sejarah Indonesia yang merupakan bukti tertulis pertama yang
ditemukan berupa aksara pallawa dalam bahasa sanskerta.
9. Dan lain-lain
Adapun di belakang area Museum Mulawarman banyak terdapat cinderamata
yang diperjualkan sebagai cideramata khas budaya dayak bagi para
pengunjung yang berupa batu perhiasan dan cinderamata lainnya.
Dengan melakukan perjalanan mngunjungi museum di beberapa daerah
Indonesia, kita banyak belajar dari sebuah perjalanan sejarah. Semoga
pengalaman yang penulis ceritakan kepada para sahabat dapat mebuka
cakrawala pengetahuan kita tentang keberadaan keunikkan budaya yang
dimiliki bangsa Indonesia.